Aku sebenarnya tidak yakin dengan apa yang kulakukan kini. Melangkahkan kaki tanpa menengok ke belakang. Meninggalkan sejuta hal dan kenangan bersama dia. Ah rasanya setiap jejak langkahku di tanah ini sudah dibaluri bayangannya. Aku hampir tak tahu lagi di mana tempat untuk menenangkan diri dari semua kekacauan ini. Aku sudah bosan, lelah tepatnya menghadapi semua ini. Tak mungkin menghapus semua jejak yang telah tercipta karena jejak itu abadi menyatu di tanah tersebar dalam udar kota ini. Kota kecil tempat aku menghabiskan banyak waktu bersama dirinya, bersama dia. Hmm dia. Iya dulu sebelum perubahan itu terjadi. Sebelum kita memutuskan melangkah ke arah yang berbeda, walau komitmen itu berusaha kupertahankan, mungkin kita pertahankan sayang tak ada yang abadi di dunia ini. Dan aku baru menyadarinya saat semua sudah terjadi.
Apa aku harus pergi selamanya dari kota yang telah membesarkanku? Kota yang memberiku sejuta kenangan indah termasuk kenangan tentangnya yang bagaikan dua sisi koin. Pedih dan indah untuk dikenang. Aliran sungai dan bukit hijau di depan taman ini masih sama seperti dulu, tennag membawa kedamaian. Namun terasa ada yang kurang. Ya dia. Dulu hampr tiap Minggu sore kami datang ke tempat ini hanya untuk termenung mencari ide gila. Menulis cerita bersama, berbagi impian, masa depan bahkan di tempat ini pula dia mengatakan keinginannya meneruskan kuliah di kota itu. Kota yang berbeda denganku. Aku bahagia saja waktu itu, dia mau melanjutkan kuliahnya optimisme dan keinginannya yang berkobar membuatku merelakannya pergi membawa mimpinya. Semilir angin sore ini memaksaku membuka kembali cerita itu, awal dari semua ini. Awal takdir yang baru. Tiga tahun yang lalu
*******
"Car, aku boleh ngomong sesuatu gak sama kamu?"
"Ngomong aja biasanya juga gak pernah minta ijin kalau mau bicara,tumben-tumbenan" tawabku tanpa mengalihkan pandangan pada puncak bukit yang ada di depan mata kami. Andri aneh banget deh, mau ngomong saja pakai minta ijin segala. Untuk apa aku melarangnya bicara,itu kan haknya dia.
"Emm, udah memutuskan buat melanjutkan pendidikanku. Kemarin aku daftar kuliah di jurusan yang kamu sarankan waktu itu." Yaa ampun aku kira ada apa, ku kira dia bakal berkata macam aku terkenan penyakit berbahaya atau hal semacamnya. Tunggu kenapa raut wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan?
"Ya bagus dong aku senang akhirnya kamu memilih untuk mendalami apa yang kamu sukai."
"iya, tapi ada hal lain yang belum kamu tahu. Tadi pagi aku meneima sebuah email ternyata pemebritahuan bahwa aku lolos seleksi beasiswa . Maaf aku tak cerita padamu sebelumnya. Aku hanya tak mau merepotkan dan memberi kabar yang belum pasti. Tapi aku rasa kamu berhak mengetahuinya. Dari dua universitas yang kuajukan saat pendaftaran ternyata aku hanya diterima di pilihan kedua." Aku sedikit kaget mendengar penjelasannya, namun aku paham dia memang menolak merepotkan siapapun. Dia ya menurutku terlalu mandiri.
"iya tidak apa aku paham dirimu, Ndri. Lalu kenapa raut mukamu malah sedih? Ini kabar bahagia kawan."
" Kau belum tahu semuanya. Kita bakal pisah kota. Universitas yang menerimaku tidak berada satu kota dengan tempatmu belajar nanti. Maafkan aku."
"tenang saja, aku tak marah kok. Kamu tidak akan melupakan adik kecilmu ini kan?Aku hanya takut begitu kau pindah lalu lupa pada kota kecil ini, dan lupa pada ku pada kita." Sembari menyunggingkan sebentuk senyum untuknya. Walaupun sebenarnya aku tak memungkiri kekhawatiran mulai timbul di benakku. Apa semuanya tidak aka berubah drastis.
"Kapan kamu pergi ke sana?"
"Pada hari yang sama dengan keberangkatanmu. Aku pun berangkat ke Bandung." Itu artinya hanya seminggu lagi kebersamaan kami.
"Jangan sedih ya jaga dirimu baik-baik di kota Gudeg. Kalau kangen sama aku kan tinggal SMS atau telpon, video call kalau mau." Ucapnya sambil nyengir.
"Idih siapa lagi yang mau ngangenin kamu. Ogah,kayak gak ada hal lain yang bisa dikangenin." Aku memang akan merindukanmu meski bukan hanya sebagai sahaba semata Andri.
Kau memang tak pernah tahu karena aku memang menyembunyikannya. Aku masih memegang teguh prinsipku untuk tak mengumbar perasaan pada laki-laki yang kusukai kecuali dia yang memulai lebih dahulu dan aku hanya perlu merespon. Apalagi dia adalah sahabat yang selalu menemaniku setiap hari. Pernah aku bertanya padanya tentang gadis yang dia sukai. Dia hanya berkata 'yang penting dia baik lagipula saat ini aku belum berniat mencari gadis itu. Perjalanan masih panjang lebih baik fokus saja dulu. Kuliah, menikmati masa muda dan masa lajangmu tak usah buru-buru. Santai saja tulang rusuk tidak akan tertukar. Jika dia memang untukmu sang pencipta akan mempersatukan kalian kembali kalau bukan ya sudah terima takdir cari yang lebih baik dari dia. Simpel kan gak usah ribet. Santai saja. Memang siapa laki-laki yang mau menawan hatim? Kalau masih pengen bebas ya udah gak usah mengikatkan diri pada dia. Enteng sekali. Sama sekali tak paham bahwa yang aku maksud adalah dia. Lalu sepanjang sisa sore itu hanya kugunakan untuk memandangi aliran sungai dalam keheningan entah kenapa tak ada percakapan riuh seperti biasanya.
Okaaay segitu dulu postingannya itu chapter pembukanya. Mohon feedbacknya yaaaa.