Senin, 27 Januari 2014

MAAF BUKAN KITA

Diposting oleh Icha Tisa di 06.46
Kamu terlambat mas,sepatah kalimat itu yang mampu kuucap dalam hati saat melihatmu kembali sore itu. Di teras depan rumah. Tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu penantian kosongku. Saat aku masih mempercayai semua janji indahmu,ya aku memang masih polos ketika itu. Begitu juga dengan kau kan mas? Aku menikmati semua itu. Menghabiskan waktu berjam-jam berbincang hal yang tidak penting. Bermain kata-kata bersamamu, ataupun sekedar melihat kamu yang sedang terdiam memikir kan sesuatu yang aku tidak tahu.

Semua memang berlalu begitu cepat. Empat tahun sudah berlalu sejak pertemuan terakhir kita di terminal bus kota. Kala itu aku berharap ada kejelasan kata-kata darimu. Tapi kita malah membicarakan kenangan masa remaja kita. Aku tak berani memulai, hatimu terlalu misterius untuk ditebak. Raut mukamu menyiratkan ketidakrelaan saat aku bersama yang lain padahal orang itu adalah sahabatmu juga bukan? Saat itu kau sibuk membicarakan pula rencana masa depanmu yang kau tulis rapi di selembar kertas.

 "Rin, pokoknya empat tahun dari sekarang kita mesti udah lulus. Kita kejar beasiswa ke luar negeri. Sekolah bareng, sekampus. Bayar semua kangen yang empat tahun bakal kita lewati tanpa ada satu sama lain." Ucapmu ketika itu.
"Memangnya aku siapamu? Beneran bakal kangen nih?" Ujarku sembari melempar tawa seolah itu candaan dua sahabat meskipun sebenarnya itu pertanyaan yang nyata kutujukan padamu.
"Kangen dong jelas, ya kamu kan sahabatku." Jadi aku cuma sahabatmu saja gak lebih.
"Maafin aku ya gagal mendapat tempat di kampus yang sama maaf kita pisah kota. Tetap kabarin Aku ya Rin." Ucapmu sebelum bus antar kota itu membawamu pergi mas.

Hanya sebulan kamu pegang janjimu. Setelah itu kau hilang tanpa kabar. Aku tetap setia mengabarimu. Walau pesan itu tak terbalas. Kamu bilang sibuk kuliah, belajar, organisasi? Sesibuk itukah hingga tak ada waktu sedikit saja untukku. Kamu yang berjanji menjaga komunikasi kamu pula yang lebih dulu ingkar, iya sih cuma sahabat.

Setahun penantianku masih bersisa. Dia datang, saat kenangan tentangmu hampir kuhapus. Kehangatan dan cerita yang dia bawa menyusup ke celah hatiku. Semua berjalan perlahan memang. "Mau gak kamu barengan lewati hari sama aku?" Mulai saat itu kamu resmi aku tutup dari lembaran sejarah.

"Rin, apa benar lelaki di foto itu kekasihmu?" Matamu masih sama mas sayang hatiku sudah tak terpesona lagi.
"Iya dia orang yang menemaniku kini."
"Mengapa kamu tak menungguku? Beri aku kesempatan lagi."
"Maaf mas untuk apa aku terus menunggu seseorang yang bahkan tidak berani mengatakan kedekatan kita yang sebenarnya seperti apa dulu. Kamu bilang dulu cuma sahabat. Maaf aku memilihnya." Ya aku memang memilih dia ketimbang kamu. Aku dan dia adalah kami, tapi kau dan aku bukan kita.




0 komentar:

Posting Komentar

MAAF BUKAN KITA

| |

Kamu terlambat mas,sepatah kalimat itu yang mampu kuucap dalam hati saat melihatmu kembali sore itu. Di teras depan rumah. Tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu penantian kosongku. Saat aku masih mempercayai semua janji indahmu,ya aku memang masih polos ketika itu. Begitu juga dengan kau kan mas? Aku menikmati semua itu. Menghabiskan waktu berjam-jam berbincang hal yang tidak penting. Bermain kata-kata bersamamu, ataupun sekedar melihat kamu yang sedang terdiam memikir kan sesuatu yang aku tidak tahu.


Semua memang berlalu begitu cepat. Empat tahun sudah berlalu sejak pertemuan terakhir kita di terminal bus kota. Kala itu aku berharap ada kejelasan kata-kata darimu. Tapi kita malah membicarakan kenangan masa remaja kita. Aku tak berani memulai, hatimu terlalu misterius untuk ditebak. Raut mukamu menyiratkan ketidakrelaan saat aku bersama yang lain padahal orang itu adalah sahabatmu juga bukan? Saat itu kau sibuk membicarakan pula rencana masa depanmu yang kau tulis rapi di selembar kertas.

 "Rin, pokoknya empat tahun dari sekarang kita mesti udah lulus. Kita kejar beasiswa ke luar negeri. Sekolah bareng, sekampus. Bayar semua kangen yang empat tahun bakal kita lewati tanpa ada satu sama lain." Ucapmu ketika itu.
"Memangnya aku siapamu? Beneran bakal kangen nih?" Ujarku sembari melempar tawa seolah itu candaan dua sahabat meskipun sebenarnya itu pertanyaan yang nyata kutujukan padamu.
"Kangen dong jelas, ya kamu kan sahabatku." Jadi aku cuma sahabatmu saja gak lebih.
"Maafin aku ya gagal mendapat tempat di kampus yang sama maaf kita pisah kota. Tetap kabarin Aku ya Rin." Ucapmu sebelum bus antar kota itu membawamu pergi mas.

Hanya sebulan kamu pegang janjimu. Setelah itu kau hilang tanpa kabar. Aku tetap setia mengabarimu. Walau pesan itu tak terbalas. Kamu bilang sibuk kuliah, belajar, organisasi? Sesibuk itukah hingga tak ada waktu sedikit saja untukku. Kamu yang berjanji menjaga komunikasi kamu pula yang lebih dulu ingkar, iya sih cuma sahabat.

Setahun penantianku masih bersisa. Dia datang, saat kenangan tentangmu hampir kuhapus. Kehangatan dan cerita yang dia bawa menyusup ke celah hatiku. Semua berjalan perlahan memang. "Mau gak kamu barengan lewati hari sama aku?" Mulai saat itu kamu resmi aku tutup dari lembaran sejarah.

"Rin, apa benar lelaki di foto itu kekasihmu?" Matamu masih sama mas sayang hatiku sudah tak terpesona lagi.
"Iya dia orang yang menemaniku kini."
"Mengapa kamu tak menungguku? Beri aku kesempatan lagi."
"Maaf mas untuk apa aku terus menunggu seseorang yang bahkan tidak berani mengatakan kedekatan kita yang sebenarnya seperti apa dulu. Kamu bilang dulu cuma sahabat. Maaf aku memilihnya." Ya aku memang memilih dia ketimbang kamu. Aku dan dia adalah kami, tapi kau dan aku bukan kita.




0 komentar:

Posting Komentar

 

Menggapai Mimpi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos