Jumat, 27 Juni 2014

CERITA NANO-NANO TAHUN PERTAMA

Diposting oleh Icha Tisa di 08.50 0 komentar
Alhamdulillah MCQ terakhir di tahun pertama sudah selesai dilaksanakan kemarin. Malam ini saya sempatkan untuk menulis di blog menceritakan sedikit unek-unek yang mengganjal di hati tentang beberapa hal. Gak kerasa ternyata sudah satu tahun jadi mahasiswa. Setahun jauh dari rumah. Setahun pula jadi mahasiswa Pendidikan Dokter FKIK UMY setahun pula bareng sama Medallion. Banyak cerita walaupun baru setahun dan kemampuan medis masih minimal alias pas-pasan haha. So let me start my story from blok 1 until blok 6.

BLOK 1
Haha blok unyu-unyu. Seriusan. Blok ini masih belum tahu apa-apa, mau belajar apa, cara belajarnya bagaimana? Masih galau bakal punya teman atau enggak, belum lagi masih galau gegara pisah sama sahabat-sahabat belum terlalu ikhlas melepas seragam putih abu. Berasa udah tambah tua eh dewasa deng. Untunglah semua hal konyol dalam pikiran saya gak ada satupun yang jadi kenyataan.
Ya blok 1 aku masih belum merasa jadi mahasiswa kedokteran, kalau ada yang tanya "lho kenpa gitu Ca?" soalnya blok ini judulnya aja KETERAMPILAN BELAJAR. jadi yang kita pelajari di sini tuh cara belajar ala mahasiswa yang mandiri gak usah disuruh sadar diri (mesti segera lulus biar gak jadi mahasiswa abadi haha) . Sampai sekarang saya gak mungkin lupa sama praktikum anatomi pertama, why? INHAL. "Apa itu inhal Ca?" Jadi teman-teman sebelum kita bisa ikut praktikum ada pretest dulu, nah kita bisa ikut praktikum jika dan hanya jika nilai pretest lebih dari sama dengan batas nilai minimal. Konyolnya saat itu saya salah baca buku. Harusnya yang saya baca adalah modul blok 1 namun saya malah menghapalkan struktur tulang yang ada di lembar kerja anatomi. Walhasil saya bengong mau jawab apa dan berakhir dengan inhal. Saya juga baru tahu ternyata ujiannya bukan tiap akhir semester namun tiap akhir blok. Yap ujian yang terasa mendebarkan walaupun sumbangsih terhadap nilai total kecil itulah TENTAMEN kawan. Kita berhadapan sama preparat atau kadaver utuh terus ada pertanyaab apa nama bagian yang ditunjuk jarum? Itu pertanyaan dengan tingkat kesulitan bisa mudah bisa jadi sulit buat yang matanya kagak jeli. Yang nyesek tuh kalau udah ngisi nama organ ternyata pertanyaan belum selesai dan jawaban tidak dapat diganti. Meskipun sudah dua blok tidak merasakan tentamen tapi masih ingat tata caranya. Apalagi alarm di kamar bunyinya sama kayak alarm waktu habis saat tentamen. Hmm oke blok 1 itu aja yaa mari kita lanjut ke blok 2.

BLOK 2
Saya tidak memungkiri dan mengingkari blok 2 adalah blok yang indah. Untuk seorang mahasiswa tingkat 1 yang baru tahu dunia mahasiswa, untuk seorang mahasiswi baru yang pernah mengumbar tak akan pernah menyukai seseorang selama tingkat 1. Seorang mahasiswi yang pada akhirnya sempat tersentuh relung hatinya oleh sapaan singkat, semburat merah di pipinya yang muncul saat bertemu sang mahasiswa. Yaa tahulah gaya anak SMA atau ABG jatuh cinta yang senyum di belakang pas udah ketemu cuma nunduk kaki lemas. Aku pernah mengalaminya broo di blok 2 ini.  Senengnya kalau mention di balas, senangnya kalau disapa itu hal wajar proses kehidupan. Sampai bahagianya jalan bareng yang bikin jarak dari kos ke kampus cuma tujuh langkah. Malam mingguan? Oh nyantai udah pernah kok di blok 2.
Blok ini juga ngerasain deg-degannya Open Recruitment jadi anggota MARS. Wah udah keringat dingin aku takut gak lulus. Diajarin bikin Gagasan Tertulis cara membuat karya yang baik dan sistematis. teman-teman lain yang ikut oprec ada yang udah gak aneh sama karya tulis, ada yang waktu SMA jadi anggota KIR lha aku? Pengalaman pun gak ada.
oh tanya tentang medis? Blok ini malah berasa jadi mahasiswa Hukum. Lha diskusi yang tutorial membahas Pasal aturan kedokteran sumpah dokter, malpraktek (naudzubillah). Eits blok ini penting cuy. Jadi sadar kita menangani pasien bukan penyakit pasien, perlakukan dengan manusiawi. Lakukan tindakan medis yang sesuai dan jangan lupa minta persetujuan pasien sebelum kita melakukan tindakan. 
Yaa blok ini mengajarkanku untuk beretika bertindak sesuai aturan dan tidak seenak diri sendiri.

BLOK 3
Naah blok ini dia, Basic Medical Science 1 alias Kedokteran Dasar 1. Mulai belajar mekanisme dasar kerja tubuh, mulai terasa jadi mahasiswa kedokteran. Belajar memeriksa vital sign serta pemeriksaan fisik dan anmnesis. Belajar ngukur tekanan darah, nadi serta kawan-kawannya. Walau masih yang normal-normal namun rasanya wah keren broo. Apalagi ketika pakai stetoskop meriksa bapak probandus wah rasanya tuh sulit diungkapkan dengan kata-kata mendengar suara dari dalam perut, organ menakjubkan subhanalloh karunia Alloh SWT yang menakjubkan.
Hal yang mendebarkan di blok ini adalah pengumuman siapa yang diterima OPREC MARS.Tebak?Yaap alhamdulillah diterima. Keren apalagi pas makrab di Youth Centre.
Blok ini juga blok gila karena praktikum seminggu bisa ada 5 samapi 6 kali dengan materi yang unyu-unyu semua.

BLOK 4
 FOTO SAAT PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK PENGAMBILAN SAMPEL DARAH

Sampai bingung sendiri harus memakai kalimat macam apa untuk menggambarkan blok 4 ini? Gunung Kelud meletus, hingga kampus diliburkan. Kondisi Yogyakarta porak poranda. Bukan itu bagian terburuk yang terjadi saat itu melainkan, sebenarnya aku tidak mau untuk membahas hal itu lagi. Yaa dengerin aja lagu Ungu-Sayang.  Nyeritain apa reff lagu itu? Udah tau? Ya sudah gak usah aku ceritain. Oh Men, gak mudah untuk melalui itu. Baru lewat beberapa waktu yang indah and the real disaster came to my life.
Beruntunglah aku saat itu Alloh masih sayang padaku. Haha datang project PKM Dikti. Yoo ada kesempatan buat apa disia-siakan lebih baik dimanfaatkan. Keren itu pertama kalinya setelah resmi jadi anggota RSD MARS aku ikut PKM GT dua kelompok pula. Membahas tentang rokok dan satu lagi herbal. Yaa blok yang secara psikologis butuh kerja lebih telah kulalui. Oh yaa blok ini aku belajar ngambil darah juga lhoo udah gak takut lagi sama jarum suntik hihi.

BLOK 5
Blok ini pas ulangtahunku. Gak bakal lupa kalau blok ini jadi panitia konsumsi Medjonson dan semnas STD. Bahkan flowercrown yang dipakai pas farewell party pun masih disimpan baik-baik. Blok yaa peralihan penyesuain dari blok 4 yang nanonano itu. Blok ini mantap yoo. Dikejar deadline SF UNDIP,sampai ngerjain GT di kampus nyampai jam 10 malam. Di blok ini pula berani bawa motor ke jalanan Yogyakarta. Blok ini belajar metabolisme gak banyak yang aku ceritain ya gitu saja.

BLOK 6
Blok terakhir di tahun pertama. Hihi. Keren belajar sistem imun. Ternyata sistem imun korelasinya luas ke berbagai sistem lain. Rumit namun menyenangkan walaupun cukup membingungkan di ujian. Apalagi ada dosen keren Prof.Marsetyawan yang asiiik top. Blok ini aku kembali menemukan duniaku yang bebas tanpa sesutu yang mengganjal hehe walaupun masih deg-degan hasil MCQ semoga lulus aamiin.
 Yaa itu dulu ceritanya.

Note 1.
Patah hati gak usah terlalu lama awalnya memang susah tapi lama-kelamaan kamu bakal sadar kok ada yang lebih baik buat kamu. Aku meyakini hal itu. Gak usah banyak galau gak baik buat kesehatan (seriusan). Aku gak bercanda lhoo.
Note 2.
Berkarya jangan cuma jadi mahasiswa yang kulaih pulang yaa tiap orang punya pendapat sendiri. Akupun tak begitu aktif ada saat di mana aku jenuh namun setidaknya berkaryalah satu saja selama kamu kuliah karena bila kau mati karyamulah yang dikenang. 

     
 

Rabu, 29 Januari 2014

ANAK KOS? BAGAIMANA YA?

Diposting oleh Icha Tisa di 07.31 2 komentar


Huaa gak terasa yaa semester 2 sudah menyongsong. Padahal rasanya baru kemarin naik kereta api dari kota kelahiran hijrah ke London  maksudnya ke kota pelajar, Yogyakarta. Waktu itu dua minggu sebelum berangkat ke sana udah cemas, badan panas dingin kayak mau disuntik pakai jarum suntik berbagai ukuran. Udah kebayang nanti di sana gimana ya? Jauh dari orangtua, jauh dari sanak saudara, pisah sama gebetan  teman-teman. Galau badai hujan salju deh pokoknya.
Sebenarnya saya gak berniat untuk membuka kembali lembaran lama yang telah lalu karena biarlah masa lalu jadi hiasan kehidupan (cielaah puitis banget sih) tapi berhubung kemarin saya ketemu adik kelas di SMA tercinta yang nanya-nanya tentang universitas sama bagaimana rasanya jadi anak kos jadi baiklah mari kita kupas awal jadi anak kos yang sendu itu ceritanya. Lagi-lagi berhubung saya bingung mulai cerita dari sebelah mana, jadi ceritanya mau saya bikin Question and Answer saja ya.

Q. Bagaimana rasanya saat akan meninggalkan kampung halaman pertama kalinya???
A. Rasanya tuh gado-gado campur aduk. Antara senang, sedih, gembira, galau dijadikan satu adonan. Sebelum pada nanya kok bisa gitu? Lebih baik saya jelaskan sekalian. Gembira? Jelas banget dong udah lulus SMA udah gak usah pakai seragam, pertanda siap melanjutkan langkah menapaki tangga yang lebih tinggi. Namanya anak kos, jauh dari keluarga. Kita mau main terus, belajar 24 jam non-stop orangtua gak bakal tahu dan lihat langsung. Saya gembira karena artinya orangtua udah ngasih amanah dan percaya anaknya gak bakal semena-mena di kota orang. Haha ya selain itu jadwal hidup jadi lebih longgar. Jadi anak kos tuh gak bakal ada yang bangunin pagi buta, atau yang ngomelin kamu. Tapi ini juga yang bikin sedih, kelamaan di kos bikin kangen juga diomelin orang tua dan dibangunin sama mama atau papa. Kebayang biasanya pulang sekolah pulang ke rumah udah tersedia makanan tinggal langsung makan. Pokoknya kebayang lagu yang masak-masak sendiri,makan makan sendiri nyicipin baju pun sendiri. Itu tuh cerita anak kos banget deh.


Q. Bagaimana cerita awal sampai di kota pelajar? Adaptasinya bagaimana?
A. Sebenarnya aku udah sering bahkan keseringan main ke Yogyakarta. Tapi, dasar niat nya main dan liburan doang jadi meski dari kelas 3 SD bolak balik ke Yogyakarta tetap aja sampai hari ini belum paham bener dan hapal jalan di sana. Walhasil satu semester 1 belum pernah bawa motor keluar arena yang jauh sampai Malioboro. Beraninya masih dibonceng haha. Tapi walaupun belum hapal jalan aku cukup paham arena Yogyakarta makanya awal sampai di sana udah tahu mesti naik apa ke kos dan gak terlalu bengong karena jalur bus yang lewat kampus aku lumayan tahu. Karena Aku emang dasar kepo maka baru dua hari jadi anak kos udah so tahu ngajak sobatku yang sekampung sekos pula jalan ke Malioboro pakai bus dan keliling kampus padahal waktu itu Aku belum tahu lhoo arena kampus dan fakultasku. Prinsipnya sih so tahu aja nyasar juga masih di
Indonesia gak usah ribet.


Q. Senangnya jadi anak kos apa Teh Ica?
A. Senangnya jadi anak kos itu lebih bebas,asal kebebasan ya gak disalahgunakan. Contohnya dulu
pas SMA pulang jam 5 sore setelah rapat organisasi waah siap-siap saja diberi kuliah umum gratis. Sekarang malam minggu ada rapat selesai jam 19.30 pun aman saja,orangtua telpon bilang jujur dan horee ternyata aman gak ada kuliah gratis. Terus tidur jam berapa pun gak ada yang larang. Mau tidur jam 10 malam atau begadang ngerjain tugas,belajar, nonton sampai jam 2 malam pun bebas. Ya sadar diri juga kitanya besok kuliah pagi mau begadang sampai Shubuh ya keterlaluan juga. Kita juga bisa kenal sama orang-orang baru yang notabene tetangga kos kita. Selain itu kita belajar untuk memilah orang yang bisa dikasih kepercayaan lebih untuk berbagi cerita di tanah rantau.

Q. Terus gak enaknya jadi anak kos apa?

A. Seperti yang sudah ku sebut tadi segalanya sendiri . Mesti belajar mandiri, jauh dari orangtua pintar-pintar memanage waktu,uang segalanya deh pokoknya.


Q. Suka homesick gak?
A. Homesick itu wajar kali yaa apalagi buat yang belum pernah jauh dari orang tua dan Rumah. Sebulan pertama teman belum banyak belum lama jadi anak kos hampir setiap hari homesick. Nyantai aja kalau kena serangan homesick kalau aku SMS orang rumah, tapii waspada bila homesick tak kunjung sembuh. Sekarang sih kadang saja homesick nya.

Q. Caranya biar gak sering kena homesick?
A. Setiap orang Punya caranya untuk menghilangkan homesick. Temukan teman sebanyak mungkin, sesama perantau rasa persaudaraan tuh bakal tumbuh lhoo, buat yang kotanya punya perkumpulan mahasiswa enak banget tuh kalau homesicknya parah kumpul bareng atau main ke asrama daerah.

Q. Teteh tipsnya dong biar gak sering homesick dan bisa adaptasi!
A.  Ini tips subjektif lho tiap orang bisa berbeda ini caraku membunuh penyakit homesick. Pertama ingat tujuan kita mau kuliah, kalau diam terus di kampung halaman sampai akaran juga mimpimu cuma mimpi. Terus cari teman dekat yang bisa diajak berbagi maksudku teman dekat artian sahabat yaa bukan pacar. Yang sekos sih kalau bisa kalau gak yang kosnya dekat maupun yang sejurusan. Hapus rasa malu berlebihan buat kenal sama teman baru. Aku lhoo dulu tuh malu nyapa duluan tapi karena tuntutan diri yaa mulai bisa berani kenal cari teman. Kenali lingkunganmu, bisa tanya ke seniormu bisa juga jalan-jalan sekalian cari udara segar.

Naaaah segitu dulu ceritanya lain kali disambung lagi. Ada yang mau ditanyakan?

Senin, 27 Januari 2014

MAAF BUKAN KITA

Diposting oleh Icha Tisa di 06.46 0 komentar
Kamu terlambat mas,sepatah kalimat itu yang mampu kuucap dalam hati saat melihatmu kembali sore itu. Di teras depan rumah. Tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu penantian kosongku. Saat aku masih mempercayai semua janji indahmu,ya aku memang masih polos ketika itu. Begitu juga dengan kau kan mas? Aku menikmati semua itu. Menghabiskan waktu berjam-jam berbincang hal yang tidak penting. Bermain kata-kata bersamamu, ataupun sekedar melihat kamu yang sedang terdiam memikir kan sesuatu yang aku tidak tahu.

Semua memang berlalu begitu cepat. Empat tahun sudah berlalu sejak pertemuan terakhir kita di terminal bus kota. Kala itu aku berharap ada kejelasan kata-kata darimu. Tapi kita malah membicarakan kenangan masa remaja kita. Aku tak berani memulai, hatimu terlalu misterius untuk ditebak. Raut mukamu menyiratkan ketidakrelaan saat aku bersama yang lain padahal orang itu adalah sahabatmu juga bukan? Saat itu kau sibuk membicarakan pula rencana masa depanmu yang kau tulis rapi di selembar kertas.

 "Rin, pokoknya empat tahun dari sekarang kita mesti udah lulus. Kita kejar beasiswa ke luar negeri. Sekolah bareng, sekampus. Bayar semua kangen yang empat tahun bakal kita lewati tanpa ada satu sama lain." Ucapmu ketika itu.
"Memangnya aku siapamu? Beneran bakal kangen nih?" Ujarku sembari melempar tawa seolah itu candaan dua sahabat meskipun sebenarnya itu pertanyaan yang nyata kutujukan padamu.
"Kangen dong jelas, ya kamu kan sahabatku." Jadi aku cuma sahabatmu saja gak lebih.
"Maafin aku ya gagal mendapat tempat di kampus yang sama maaf kita pisah kota. Tetap kabarin Aku ya Rin." Ucapmu sebelum bus antar kota itu membawamu pergi mas.

Hanya sebulan kamu pegang janjimu. Setelah itu kau hilang tanpa kabar. Aku tetap setia mengabarimu. Walau pesan itu tak terbalas. Kamu bilang sibuk kuliah, belajar, organisasi? Sesibuk itukah hingga tak ada waktu sedikit saja untukku. Kamu yang berjanji menjaga komunikasi kamu pula yang lebih dulu ingkar, iya sih cuma sahabat.

Setahun penantianku masih bersisa. Dia datang, saat kenangan tentangmu hampir kuhapus. Kehangatan dan cerita yang dia bawa menyusup ke celah hatiku. Semua berjalan perlahan memang. "Mau gak kamu barengan lewati hari sama aku?" Mulai saat itu kamu resmi aku tutup dari lembaran sejarah.

"Rin, apa benar lelaki di foto itu kekasihmu?" Matamu masih sama mas sayang hatiku sudah tak terpesona lagi.
"Iya dia orang yang menemaniku kini."
"Mengapa kamu tak menungguku? Beri aku kesempatan lagi."
"Maaf mas untuk apa aku terus menunggu seseorang yang bahkan tidak berani mengatakan kedekatan kita yang sebenarnya seperti apa dulu. Kamu bilang dulu cuma sahabat. Maaf aku memilihnya." Ya aku memang memilih dia ketimbang kamu. Aku dan dia adalah kami, tapi kau dan aku bukan kita.




Sabtu, 21 Desember 2013

MAMA, MY INSPIRATION

Diposting oleh Icha Tisa di 16.06 0 komentar
Pagi ini ketika saya membuka sosial media rata-rata dipenuhi dengan ucapan selamat hari ibu. Oh iya hari ini memang tanggal 22 Desember yang diperingati sebagai hari ibu. 
Sudah 18 kali seumur hidup ini saya mengalami hari ibu dan jujur saja tak ada yang berbeda dengan hari dan tanggal lainnya. Tapi pagi ini ada hal yang terasa berbeda, saat kerinduan itu mulai menyusup relung hati dan meminta tangan merengkuh memeluk seseorang yang selama 18 tahun selalu sabar dan mendampingi saya bahkan sebelum saya menghirup oksigen bebas untuk pertama kalinya, mama.
Ini memang tahun pertama saya berada jauh dari mama,sebagai mahasiswa dan anak kos. Biasanya setiap hari bertemu bisa berbagi cerita sepuas hati namun perbedaan tempat Banjar dan Yogyakarta membuat saya harus berpuas hati cerita lewat telpon. Hal yang membuat saya menyadari betapa mama menyayangi saya adalah mama selalu ada saat saya ingin berbagi. So izinkan di hari ibu ini saya sedikit membagi apa yang telah saya dapat dari mama.
  • Mama Teman curhat.Mungkin ada beberapa anak di dunia ini yang segan untuk berbagi masalah dan curhat dengan ibu mereka. Sayang saya tak termasuk di dalamnya. Tidak terhitung berapa sering sesi curhat itu berlangsung. Bahkan ketika saya menyukai seseorang atau mempunyai teman spesial saya memilih bercerita dengan jujur pada mama. Terserah mau pada bilang anak mami, udah gede masih manja. Emang siapa peduli? Justru dengan terbuka tidak akan menimbulkan kecurigaan orangtua. Ketika sudah bercerita pada mama,seperti kamu bercerita pada sahabat terbaikmu rasanya suatu hal yang menyenangkan. Mama sudah hidup lebih lama dan pernah muda, terkadang kalau galau akupun meminta pendapat mama, apalagi mama pernah menghirup udara Jogjakarta seperti ku. Mama tidak pernah melarang saya untuk mempunyai teman dekat selama dia orang baik dan berakhlak bagus. Pernah ketika saya dekat dengan seseorang di jaman dahulu kala mama terlihat tidak setuju, tapi saya pura-pura gak ngeh ternyata orang itu memang bukan orang baik yang sesuai.
  • Mama Pahlawan hidupku. Bapak sudah meninggalkan kami berdua saat saya duduk di bangku kelas 5 SD. Meskipun anak mama cuma 1 gak gampang lho menghadapi 1 anak juga apalagi yang kadang labil seperti saya. Mama tahu sejak kecil saya sudah bercita-cita jadi dokter, tapi saya juga paham biaya buat jadi mahasiswa kedokteran gak murah dan gak mudah. Nyatanya mama mampu mewujudkan apa yang pernah aku pikir akan terjadi. Mama menabung sejak bapak meninggal, aku tahu perjuangan mama seperti apa untuk membantu ku jadi mahasiswa kedokteran. Bahkan ketika saya ikut PMDK,CBT seleksi masuk kedokteran yang paling sering puasa, tahajud dan sebagainya adalah mama. Saya sendiri? Hehe tahajud pun masih terlalu sering bolong.
Sebenarnya masih banyak dan terlalu banyak yang harus dan dapat diceritakan,biar saja jadi pengisi cerita sehari-hariku. Hari ini saya ingin jadi 1 dari sekian banyak anak yang ikut merayakan hari ibu. SELAMAT HARI IBU,MAMA YOU'RE MY INSPIRATION.

Minggu, 08 Desember 2013

PULANG ( EVERYTHING IS ALRIGHT )

Diposting oleh Icha Tisa di 10.17 0 komentar

Hai all maaf ya lama gak posting. Bukannya lupa sama blog tapi praktikum dan buku-buku serta hapalan terus melambaikan tangan. Guys just enjoy it.
Dedicated for someone makasih untuk tawanya setiap hari.

"I'll be here, by your side
No more fears, no more crying
But if you walk away
I know I'll fade
'Cause there is nobody else" One Direction- Gotta be You


Perubahan memang sesuatu yang lumrah terjadi tak bisa ditahan ataupun ditolak. Namun pada kenyataannya tak semua orang bisa menerima perubahan itu. Apalagi jika hal itu terjadi dalam waktu yang begitu singkat hingga seolah hal itu adalah mimpi bukan sesuatu yang mesti dihadapi. Sayang perubahan itu nyata dan Alika menyadarinya semenjak kereta yang membawanya dari Bandung kembali ke Yogyakarta sampai di stasiun Tugu.
Sebulan yang lalu dia tak sendirian di stasiun ini. Sebulan yang lalu mereka masih berdua. Melangkahnkan kaki ke dalam gerbong kereta api dengan tujuan yang berbeda. "Sebulan? lama sekali ya, aku akan merindukanmu. Pasti sepi gak ada yang cerewet teriak-teriak ngambek tiap kali aku godain." Kalimat itu masih terngiang jelas di telinganya. Namun apa itu masih menjadi kalimat yang sama bila mereka bertemu kembali sekarang? Alika tak yakin siap bertemu kembali dengan Fakhri setelah semua yang terjadi dalam sebulan ini. Meskipun dia sadar tak mungkin menghindari seseorang yang berada dalam naungan kampus yang sama dan selalu ada peluang untuk sebuah pertemuan tak terduga.
Lalu lalang penumpang di sekitaran stasiun yang riuh tak mampu menyelipkan sedikit keriuhan untuk hatinya. Alika paham dia harus menghadapi semua ini. Dia tak tahu salah siapa ini? Dia tak mampu menyalahkan siapapun hatinya sudah terlanjur kacau, pikirannya terlanjur semrawut ketika keluar dari dalam gerbong. Yogyakarta, kota yang menjadi idamannya sejak kecil. Masuk dalam daftar most wanted dalam catatan hariannya. Kota yang telah rela membagi denyut nadinya bersama Alika selam 3 tahun ini. Kota tempatnya menuntut ilmu, merajut mimpi masa kecilnya menjadi seorang dokter. Di sini pula Alika untuk pertama kalinya 3 tahun lalu bisa melupakan cinta pertamanya pada sesorang yang telah membuatnya menunggu hingga 5 tahun, diam-diam memperhatikan seorang kakak senior pendiam yang membuatnya tetap tersenyum selama masa orientasi. Hingga dia tahu akhirnya ternyata kakak senior itu sudah punya pacar beda kota. Patahlah lagi hatinya dan dia pun memutuskan untuk tidak jatuh cinta, apalagi dengan seseorang yang satu kampus dan satu angkatan. Gue kapok patah hati, ogah kepedean dan gak mau di PHPin lebih baik jadi jomblo bahagia. Kalimat yang hanya bertahan kurang dari sebulan.
Awalnya Alika tak menyadari dia telah jatuh cinta hatinya menolak untuk memberi harapan pada diri sendiri.
Flashback
"Alikaaa, kok belum pulang?" sebuah suara menyadarkannya ke dunia nyata dari novel yang tengah dibacanya.
"Eh, belum. Lagi nunggu Fika selesai rapat."
"Ya sudah aku duluan ya. Kamu kos di mana Alika?"
"Dekat sini kok samping kampus." Seulas senyum tak sadar dia berikan pada orang yang mengajaknya berbicara.
"Aku duluan ya,hati-hati ya Alika."
Percakapan singkat itu ternyata membawa perubahan perlahan. Hampir selalu ada senyum terulas di bibirnya setiap kali melihat Fakhri. Alika belum tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Dia hanya ingin menikmati perasaan itu seorang diri, tak mau membiarkan orang lain tahu, biar tak ada hati yag terpatahkan lagi. Senyum yang terpancar dari jarak 7 meter, bila Fakhri berada di dekatnya justru senyum itu hilang. Alika seolah tak peduli dengan kehadiran laki-laki itu.
Tak baik bila seorang perempuan memulai lebih dahulu. Ntar disangka perempuan gampangan lagi. Alika hanya berani melihatnya tertawa dari jauh. Merasakan hawa panas menyebar di sekujur tubuhnya ketika dia tertawa riang atau menggoda teman perempuan lainnya. Keberanian Alika hanya sampai pada merespon kicauan Fakhri di akun Twitternya. Keberanian yang berujung pada percakapan panjang tak nyata. YA mereka hanya berani bertegur sapa di dunia yang maya. Dunia nyata? Mereka seperti dua orang asing yang belum pernah bertemu.
Bukan perkara mudah buat seorang Alika yang terbiasa bicara blak-blakan menutupi perasaannya agar tidak diketahui teman-temannya. Namun semua keburu terlanjur ketika dia lupa meninggalkan handphone di kamar temannya. Pesan demi pesan pun terbongkar. "Alika sampai kapan kamu mau tetap begini? Berura-pura tak punya perasaan. Mau sampai kapan bertahan menunggu ketidakpastian? Memangnya kamu pikir dia yang lima tahun kamu tunggu juga menantimu juga? Buktinya sampai sekarang kalian beda kota dia semakin menjauh. Buka hatimu Alika,pakai logikamu. Kalau cinta mengapa harus gengsi? Dia malu tak berani memulai, tidak akan ada yang menyalahkanmu bila kamu memberinya kode terlebih dulu. Kamu hanya perlu keberanian dan dia hanya perlu stimulus untuk mengungkapkan perasaannya." Nasihat panjang lebar dari sahabat dekatnya itu tak lantas dia lakukan sampai ada paksaan.
Paksaan yang disyukuri Alika saat itu, tepat seminggu sebelum mereka berani menjadi satu. Bukan Alika, bukan Fakhri tapi mereka berdua. Dua menjadi satu. "Perempuan punya hak untuk menjawab dan laki-laki berhak untuk bertanya." ujar Alika saat itu.
"Aku gak bisa bikin kalimat yang bagus atau puitis aku gak romantis,tapi kamu mau kan sama aku?" Jari kelingking tangan kanan milik seseorang dihadapannya itupun terulur, Alika hanya menunduk tak menjawab dan mengaitkan kelingking kanan miliknya pada kelingking yang terulur itu. Yogyakarta di sini aku memulai langkah meatap ke depan, terimakasih langit Yogya kau saksinya.
*******
Dipandanginya jalanan Malioboro sore itu, guyuran hujan yang membasahi kota pelajar sesaat setelah dia menginjakkan kaki kembali di kota telah usai. Namun genangan air masih terlihat di sepanjang jalan. Menggenang seperti kenangan-kenangan sepanjang jalan pikirannya. Entah apa yang ada di pikiran Alika hingga memutuskan mengunjungi tempat itu. Ditinggalkannya koper di hotel langganan keluarganya. Semalam biarlah aku menenangkan diri tak kembali ke tempat kos. Toh teman-temannya belum ada yang tahu dia sudah kembali.
Alika hanya duduk terpaku di bangku taman depan Benteng Vredeburg. Tanpa sadar matanya melihat sepasang laki-laki dan perempuan asyik bercanda dan sang laki-laki tengah asyik memotret dengan objek si perempuan yang sedang memegang mawar putih. Pasangan yang bahagia, seperti aku dahulu batinnya. Biasanya mereka duduk di bangku-bangku taman itu mengamati keriuhan Yogyakarta di malam hari. Tapi sore ini hanya Alika sendiri.
Alika dan semua hal yang mendadak seperti semu tanpa kejelasan. Pesan yang dia terima dan foto yang dilihatnya seminggu lalu mengubah semuanya. Kalau bukan Fakhri yang mengirimnya dia tak akan begini sekarang. Merana sendirian di tengah jantung Yogyakarta. Dibacanya kembali email yang masuk seminggu lalu itu.
"dear Alika cerewet, apa kabarmu sekarang? Hampir sebulan kita tak bertemu. Sebulan sudah cukup untuk mengubahmu. Aku kira kamu sudah benar-benar melupakannya, aku kira tujuanmu ke Bandung untuk menengok sahabatmu.  Aku tahu melupakan yang kau kenal 7 tahun lebih sulit ketimbang melupakanku yang baru kau kenal 3 tahun. Tak perlu kau jelaskan apapun cukup aku yang meraaka, aku tak marah melihat foto dan komentar itu. Maafkan aku bila semuanya telah berubah sekarang ini bukan salah siapaun. Kau bebas memilih mungkin dia memang lebih romantis :(."
Foto itu. Fotonya bersama seseorang dari masa lalu. Dia tak pernah sengaja bertemu dengan lelaki itu semua kebetulan semata. Foto saat liburan kemarin ketika Alika dan dua sahabatnya mengunjungi Lembang. Foto dia tengah duduk berdua di kursi bambu dan memegang sekuntum bunga. Bukan dia yang mengunggah foto itu. Dia bahkan baru tahu ada foto itu ikut terunggah. Sejak itu Fakhri sulit dihubungi hingga Alika memutuskan kembali ke Yogyakarta lebih cepat dari rencananya. Dia tak tak pernah mau kembali ke masa lalu, tak pernah ingin kehilangan tawa lebar bersama Fakhri. Hatinya makin tak menentu saat melihat timeline Fakhri penuh dengan percakapan dengan seorang perempuan yang entah siapa. Tertawa di Twitter sementara mention dari Alika tak dibalas.
Alika tak tahu harus apa dan bagaimana namun hatinya menginginkan dia pergi ke reruntuhan benteng dekat Taman Sari. Dihentikannya taksi yang kebetulan lewat di depannya. Bodoh memang menenangkan diri di tempat yang menyimpan kenangan tapi itulah yang diinginkannya. Matahari sudah hampir tenggelam tapi reruntuhan benteng masih ramai oleh orang yang menikmati senja. Alika memutuskan untuk duduk di tangga yang masih tersisa dari reruntuhan benteng itu ketika dilihatnya ada seseorang sedang memotret panorama senja di sekitaran benteng. Sosok itu mengingatkannya pada Fakhri. Dia memang Fakhri, saat Alika masih memandangnya lekat sosok itu keburu membalikkan badan menghadapnya.
Tak ada canda tawa seperti biasanya, hanya ada kesunyian. Alika tak berani meulai percakapan. "Aku kira kamu masih betah di Bandung. Biar bisa dekat sama lelaki itu. Kok malah balik ke Yogya?" Nada yang datar tanpa tersirat kemarahan sedikitpun keluar dari mulut Fakhri.
"Kau lupa aku tak suka laki-laki romantis? Apa kau lupa aku sudah punya pacar? Apa kau juga lupa siapa pacarku?" Alika menunduk tak berani memandang wajah Fakhri,brusaha menahan aliran emosi yang bergejolak.
"Aku ingat kok. Perempaun mana yang tak suka diberi bunga oleh seseorang yang pernah ada di hatinya?" dia begitu tenang,Alika heran sebenarnya siapa yang marah dan menjadi korban dia atau Fakhri.
"Aku rasa semua perempuan senang menerima bunga,sayang bunga yang kuterima itu dari sahabatku bukan seperti harapanmu. Aku tak sengaja bertemu dengannya dan foto itu pun aku tak tahu temanku memotretnya. Kami hanya berbincang biasa. Lagipula ada perempuan yang sedang didekatinya. Masa lalu bukan untuk dikembalikan aku lebih suka bersama seseorang yang ada sekarang. Harusnya aku yang bertanya kemana saja kamu selama seminggu ini? Mengapa pesanku tak pernah direspon? Siapa perempuan yang asyik tertawa denganmu di Twitter"
"Maaf Alika aku kira kemarin aku harus mempersiapkan diri untuk menjalani hidup seperti saat sebelum kamu datang. Aku pikir kau sudah mulai menganggap yang romantis dan bisa memberimu bunga lebih baik untukmu. Aku tidak marah Alika. Perempuan itu? Sudahlah tak usah dibahas lagi dia bukan siapa-siapa hanya teman biasa."
"Please Fakh, kau tahu harusnya aku baru kembali ke kota ini tiga hari lagi?  Aaaaah kau merengut tiga hari liburanku, apa susahnya bilang jujur walau cuma lewat SMS." Alika kesal setelah mendengar semua penjelasan itu. Meski di sisi lain dia bersyukur tawanya tak hilang dan dia tak perlu takut pergi ke kampus.
"Sudah ikhlaskan saja tiga harimu, aku juga masih betah di rumah. Tapi lihat foto itu bikin aku pengen balik ke Yogya. Aku juga baru tiba kemarin. Gak tahu kenapa tiba-tiba kepikiran buat main ke sini sendirian.
"Kamu gak bakal pergi kan Fakh?" Tanya Alika seperti meyakinkan dirinya sendiri bahwa Fakhri ada di depannya.
"Pergi ke mana Alika? Aku ada di sini kok, lagian kalau aku pergi ntar kamu galau lagi." Ujar Fakhri sambil tertawa.
"Fakhri jelek, aku gak galau kamu yang galau." Alika merengut walau hatinya mengakui.
"Aku di sini kok, selalu ada buat bikin kamu jengkel, ketawa. Aku juga kangen teriakan dan cerewetmu." Fakhri tersenyum.
Semua ternyata baik-baik saja, prasangka manusia terlalu berlebihan melebarkan yang sederhana. Terlalu banyak ketakutan disaat semuanya baik-baik saja.



 

Sabtu, 19 Oktober 2013

DUA KOTA DAN DILEMA (Part 1)

Diposting oleh Icha Tisa di 09.32 0 komentar
           Aku sebenarnya tidak yakin dengan apa yang kulakukan kini. Melangkahkan kaki tanpa menengok ke belakang. Meninggalkan sejuta hal dan kenangan bersama dia. Ah rasanya setiap jejak langkahku di tanah ini sudah dibaluri bayangannya. Aku hampir tak tahu lagi di mana tempat untuk menenangkan diri dari semua kekacauan ini. Aku sudah bosan, lelah tepatnya menghadapi semua ini. Tak mungkin menghapus semua jejak yang telah tercipta karena jejak itu abadi menyatu di tanah tersebar dalam udar kota ini. Kota kecil tempat aku menghabiskan banyak waktu bersama dirinya, bersama dia. Hmm dia. Iya dulu sebelum perubahan itu terjadi. Sebelum kita memutuskan melangkah ke arah yang berbeda, walau komitmen itu berusaha kupertahankan, mungkin kita pertahankan sayang tak ada yang abadi di dunia ini. Dan aku baru menyadarinya saat semua sudah terjadi.
           Apa aku harus pergi selamanya dari kota yang telah membesarkanku? Kota yang memberiku sejuta kenangan indah termasuk kenangan tentangnya yang bagaikan dua sisi koin. Pedih dan indah untuk dikenang. Aliran sungai dan bukit hijau di depan taman ini masih sama seperti dulu, tennag membawa kedamaian. Namun terasa ada yang kurang. Ya dia. Dulu hampr tiap Minggu sore kami datang ke tempat ini hanya untuk termenung mencari ide gila. Menulis cerita bersama, berbagi impian, masa depan bahkan di tempat ini pula dia mengatakan keinginannya meneruskan kuliah di kota itu. Kota yang berbeda denganku. Aku bahagia saja waktu itu, dia mau melanjutkan kuliahnya optimisme dan keinginannya yang berkobar membuatku merelakannya pergi membawa mimpinya. Semilir angin sore ini memaksaku membuka kembali cerita itu, awal dari semua ini. Awal takdir yang baru. Tiga tahun yang lalu

*******
"Car, aku boleh ngomong sesuatu gak sama kamu?" 
"Ngomong aja biasanya juga gak pernah minta ijin kalau mau bicara,tumben-tumbenan" tawabku tanpa mengalihkan pandangan pada puncak bukit yang ada di depan mata kami. Andri aneh banget deh, mau ngomong saja pakai minta ijin segala. Untuk apa aku melarangnya bicara,itu kan haknya dia. 
"Emm, udah memutuskan buat melanjutkan pendidikanku. Kemarin aku daftar kuliah di jurusan yang kamu sarankan waktu itu." Yaa ampun aku kira ada apa, ku kira dia bakal berkata macam aku terkenan penyakit berbahaya atau hal semacamnya. Tunggu kenapa raut wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan?
"Ya bagus dong aku senang akhirnya kamu memilih untuk mendalami apa yang kamu sukai."
"iya, tapi ada hal lain yang belum kamu tahu. Tadi pagi aku meneima sebuah email ternyata pemebritahuan bahwa aku lolos seleksi beasiswa . Maaf aku tak cerita padamu sebelumnya. Aku hanya tak mau merepotkan dan memberi kabar yang belum pasti. Tapi aku rasa kamu berhak mengetahuinya. Dari dua universitas yang kuajukan saat pendaftaran ternyata aku hanya diterima di pilihan kedua." Aku sedikit kaget mendengar penjelasannya, namun aku paham dia memang menolak merepotkan siapapun. Dia ya menurutku terlalu mandiri. 
"iya tidak apa aku paham dirimu, Ndri. Lalu kenapa raut mukamu malah sedih? Ini kabar bahagia kawan."
" Kau belum tahu semuanya. Kita bakal pisah kota. Universitas yang menerimaku tidak berada satu kota dengan tempatmu belajar nanti. Maafkan aku."
"tenang saja, aku tak marah kok. Kamu tidak akan melupakan adik kecilmu ini kan?Aku hanya takut begitu kau pindah lalu lupa pada kota kecil ini, dan lupa pada ku pada kita." Sembari menyunggingkan sebentuk senyum untuknya. Walaupun sebenarnya aku tak memungkiri kekhawatiran mulai timbul di benakku. Apa semuanya tidak aka berubah drastis.
"Kapan kamu pergi ke sana?" 
"Pada hari yang sama dengan keberangkatanmu. Aku pun berangkat ke  Bandung." Itu artinya hanya seminggu lagi kebersamaan kami.
"Jangan sedih ya jaga dirimu baik-baik di kota Gudeg. Kalau kangen sama aku kan tinggal SMS atau telpon, video call kalau mau." Ucapnya sambil nyengir.
"Idih siapa lagi yang mau ngangenin kamu. Ogah,kayak gak ada hal lain yang bisa dikangenin." Aku memang akan merindukanmu meski bukan hanya sebagai sahaba semata Andri.
Kau memang tak pernah tahu karena aku memang menyembunyikannya. Aku masih memegang teguh prinsipku untuk tak mengumbar perasaan pada laki-laki yang kusukai kecuali dia yang memulai lebih dahulu dan aku hanya perlu merespon. Apalagi dia adalah sahabat yang selalu menemaniku setiap hari. Pernah aku bertanya padanya tentang gadis yang dia sukai. Dia hanya berkata 'yang penting dia baik lagipula saat ini aku belum berniat mencari gadis itu. Perjalanan masih panjang lebih baik fokus saja dulu. Kuliah, menikmati masa muda dan masa lajangmu tak usah buru-buru. Santai saja tulang rusuk tidak akan tertukar. Jika dia memang untukmu sang pencipta akan mempersatukan kalian kembali kalau bukan ya sudah terima takdir cari yang lebih baik dari dia. Simpel kan gak usah ribet. Santai saja. Memang siapa laki-laki yang mau menawan hatim? Kalau masih pengen bebas ya udah gak usah mengikatkan diri pada dia. Enteng sekali. Sama sekali tak paham bahwa yang aku maksud adalah dia.  Lalu sepanjang sisa sore itu hanya kugunakan untuk memandangi aliran sungai dalam keheningan entah kenapa tak ada percakapan riuh seperti biasanya.

Okaaay segitu dulu postingannya itu chapter pembukanya. Mohon feedbacknya yaaaa.

Sabtu, 21 September 2013

PERUBAHAN

Diposting oleh Icha Tisa di 08.09 0 komentar
Haiii lagi rajin posting nih. Sebenarnya ini bukan cerita baru melainkan repost tulisan saya yang dimuat di kompasiana.com . Siapa tahu ada yang belum baca,monggo dibaca yuk daripada malam minggu menggalau tak jelas.



Setiap hal di dunia ini pasti akan mengalami perubahan. Tak ada yang statis, hal-hal yang ad di dunia ini akan mengalami kedinamisan. Tak ada yang sekedar diam. Perubahan itu ada. Walau terkadang kita mengingkarinya, bukan? Bukan mengingkarinya hanya saja pikiran kita berkata mengapa ini terjadi begitu cepat? Aku kira bukan sekarang mungkin esok atau lusa sepertinya akan lebih baik. Sebagian orang berpikir perubahan itu berjalan ke arah yang lebih baik dan menyenangkan namun dibagian lain ada yang merenungi perubahan dan dampaknya. Berusaha mengatakan tak akan ada yang berubahan meski terjadi perubahan dan semua  akan baik-baik sja ucap mulut mereka. Namun hatinya tetap berkata hal itu telah berubah dan berbeda dari dulu.
Ada yang berani berubah dan menginginkan perubahan. Sayangnya perubahan yang mereka lakukan tak konsisten. Ada pula yang takut untuk berubah. Sekali lagi bukan takut, namun khawatir perubahan itu menghilangkan sisi-sisi kehidupannya dan membawa serta kebahagiaan yang ada bersamanya. Siapakah yang sebenarnya salah? Aku, perubahan, keadaan, kau, mereka, atau bahkan tak ada satupun yang salah.
*******
Duduk merenungi apa yang telah terjadi selama ini. Cuma terdiam, bengong dan memandang kelap kelip lampu jalan raya di depan kamar kos. Apa sikapku selama ini padanya terlalu berlebihan, overprotektif kata teman-temanku. Ataukah kabar burung tentang perasaan lebih itu telah disampaikan angin padanya? Hingga dia enggan dekat denganku lagi. Mungkin dia merasa terkhianati karena kabar burung itu, terkhianati oleh seseorang yang selama ini sering berada disampingnya dan katanya berusaha mengubah perasaan yang telah terjalin menjadi tali kasih antara dua insan. Namun, mengapa dia mempercayai semua hal begitu saja? Jika dia memang mendapat kabar itu. Tapi di sisi lain, mungkinkah dia setega itu hingga terasa suatu perubahan? Perubahan yang dirasakan olehku tapi seperti tak ada yang beda menurutnya. Apa sosok lain lebih berarti bagi dia kini telah ada, maksudku telah ditemukan. Sosok perempuan manis, cantik, gemulai, lemah lembut dan tak pernah bicara panjang lebar. Ah, aku memang bukan siapa-siapa bagi dia. 
Apa aku harus menjauh dari kehidupannya seolah kita tak pernah berkenalan? Awalnya kita kan memang tak saling mengenal. Namun dia terlanjur menjadi bagian hidupku. Orang yang menciptakan sebagian tawa dan lelucon dalam hidupku, sosok yang menyediakan mata dan telinga untuk sekedar mendengar ocehan gadis ingusan sepertiku. Manusia yang tetap tertawa meski berkali-kali aku omeli seenaknya hanya karena sikapnya yang terlalu santai. Dia memang bukan seorang malaikat dia hanya manusia biasa namun tetap tak biasa di mataku. Menjauh dari hidupnya bukan hal mudah.
Kedekatan, sapaan akrab yang khusus sepertinya telah disalahartikan oleh beberapa orang. Termasuk oleh seseorang yang juga mengisi hatiku, namun berbeda posisi dengannya. Pernah tatapan  tak suka dia dapat dari seseorang itu, bahkan aku sendiri pernah mendapat sindiran "oh rupanya dia. Memang tampan dan cerdas. Kalau kau mencintainya lebih baik tinggalkan aku dan kembali padanya." Ucapan yang sukses membuat dia tertawa terbahak-bahak saat aku muncul dengan wajah mengkerut dan mata mulai memerah. "Ah sudahlah, kalau dia bilang seperti itu harusnya kau senang. Kalian belum ada status apapun dan ucapan dia tadi tanda dia juga menyukaimu. Bicaralah padanya nanti kutemani." ujarnya. Lalu kudatangi seseorang itu, wajah seseorang itu masih cemberut dan awalnya tak percaya dengan apa yang kukatakan melihat kedekatan dan cara kami saling menyapa. Aku memang menyayanginya namun bukan seperti perasaan padamu seseorang! Terima kasih kau akhirnya mau memahami bahkan bersmaku saat dia 'pergi'.
Minggu-minggu lalu, dua minggu lalu dia menghubungiku. Berbicara seperti biasa layaknya tak ada perubahan, handphonenya ternyata rusak dan aku telah salah paham karena menyangkanya sengaja menghilang. Aku merasa bahagia dia telah kembali, walau entah mengapa aku tetap merasa ada dinding tak tampak di antara kami berdua kini. Dia bilang untuk menemuinya di stasiun. Malam itu kuhabiskan dengan berbagai kemungkinan dan susunan cerita yang akan ku bicarakan padanya setelah sekian lama tak bertemu bukan karena berbeda kota, kesibukan masing-masing mungkin.
Seminggu setelahnya aku melihat dia. Tapi sepertinya lebih baik aku tak menemuinya. Telah ada seorang wanita di sana, bersamanya. Bukan cemburu. Aku tak mau disangka kekasihnya oleh perempuan itu atau orang yang menyukainya. Mereka terlihat begitu bahagia dan perempuan itu menggandeng tangannya. Aku pergi tanpa bertemu dengannya. Memilih ikut bahagia dan menghabiskan sepanjang hari itu dengan seseorang. "Kenapa kau terus bersikap seolah mengindarinya Ren? Aku tak kan marah lagi jika kamu dekat dengannya. Dia kan kakakmu hehe." Ujarnya.  "Terima kasih Do, kau mau memahamiku walau sampai sekarang kita masih tanpa status." sahutku tersenyum sebelum melanjutkan ucapanku.
"Aku takut Do,setelah dia menemukan seorang kekasih dia akan berubah, melupakanku seolah tak mengenalku lagi. Aku juga sadar diri kok, aku adik barunya yang datang setelah kmi tumbuh beranjak dewasa. Aku takut Do, dia mempercayai omongan orang bahwa yang kusukai adalah dia dan aku hanya memanfaatkanmu. Kamu masih ingtkan Do? Saat kita terakhir kali berkumpul bersma, kamu bertanya mengapa aku tak mengapa dia ikut serta? Waktu itu aku melihat dia sedang bersama seorang wanita aku pikir tak mau menganggunya, daripada nanti ajakan kita diacuhkan." ceritaku panjang lebar pada Aldo waktu itu.
"Perubahan itu memang ada dan kau harus meyakininya Ren. Semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kurangi egomu sedikit saja. Aku tahu kau merindukannya. Meskipun aku kini bebas bersamamu tapi aku juga tahu kau memerlukannya juga sosok kakak bagimu. Aku pernah ngerasain kok, bagaimana sedihnya saat orang yang kuanggap kakak terasa mengacuhkanku. Jangan ingkari hatimu seorang kakak dan adik itu tak perlu bertemu sedari rahim. Ada di antara adik dan kakak yang dipertemukan sesudah dewasa, di antaranya kamu dan dia. Dia kakak yang baik kok aku yakin." Ujar Aldo. Penuturannya barusan membuatku teperangah seakan aku baru sadar keegoisanku yang berharap dia yang datang lebih dulu dan ada saat aku sedih. Kemana aku selama ini, apa di baik-baik saja?
Dua hari setelah pertemuanku dengan Aldo masih tak ada kontak masuk dari dia, kakakku. Hingga satu pesan masuk ke handphoneku dari Aldo. "Ren, Repal sakit. Dia demam tinggi. Kalau dia masih bersatus sebagai kakakmu tengoklah dia bantu aku dan teman-teman menyembuhkannya." Dia sakit dan aku tidak tahu. Betapa cerobohnya aku sekarang. Setelah menyangka Aldo cemburu, lalu membiarkan seorang kakak sakit sendirian tanpa kutengok. Aku pergi ke sana bersama Aldo dan mendapati dia terbaring di tempat tidurnya, tersenyum lemah dan masih sempat mengajakku bergurau. Rasanya aku ingin memeluknya kalau saja aku tidak ingat dia sedang demam.
Perlahan kuhampiri dia di sisi tempat tidurnya, "kemana saja kamu Ren, apa sekarang yang jadi adikku Aldo heh?" tanyanya berhasil mengunci mulutku. Aku tak sanggup berkata keegoisan itu muali luntur meski setengahnya. Hatiku masih kesal karen dia pernah mengacuhkanku dan mengajakkku bertemu saat bersma perempuan lain. "Ah tidak aku kemarin sibuk." Ya sibuk dengan keegoisanku dan kekhawatiran. 
"Sibuk berduaan kali Ren sama Aldo haha." Dia malah menggodaku.
"Apa sih kak Repal, sudah diam nanti gak sembuh-sembuh." Tepat saat itu seorang perempuan masuk dan langsung menghampiri dia perempuan yang waktu itu aku lihat bersama kak Repal. Buru-buru aku beringsut ke arah Aldo dan memintanya mengantarkanku pulang. Aku beralasan pada Kak Repal, bahwa dosen menyuruhku ke kmpus untuk suatu urusan. Tapi aku tahu Aldo mengetahui yang sebenarnya.
"Ren, apa kamu mau hubungan kalian kembali seperti dulu? Rasanya kok aku kangen lihat duo aneh. Yang selalu tertawa. Kamu yang selalu mengomelinya setiap kali dia curi-curi pandang tiap lihat perempuan cantik, dan dia lalu mengejekmu sebagai nona galau."
"Aku juga Do apalagi. Kapan ya kita bisa berkumpul lagi?"
*******
Hari sudah semakin sore, namun aku masih di kampus. Menyelesaikan tugas di perpustakaan. Malas membawa daftar tugas yang bertambah untuk dibawa pulang. Lagian matahari masih bersisa sinarnya. Tinggal membuat bab penutup maka laporan yang sedang ku ketik ini selesai. Saat hendak mengambil pulpen pandanganku tertuju pada layar handphone yang sedari tadi ku simpan di tas. 7 panggilan tak terjawab dan 2 pesan masuk. Dari Aldo "Rena, maaf sepertinya hari ini aku tak bisa mengantarmu ke toko buku. Tenang ada yang menggantikanku dan aku yang memintanya." Satu pesan dari Kak Repal Bawel "Kamu di mana Ren? Kakak nunggu di parkiran kampusmu." Pesan itu hampir 1 jam yang lalu yang aku baru membacanya barusan. Bergegas aku bereskan semua pernak-pernik tugas pamitan pada penjaga perpustakaan. Semoga kak Repal masih ada.
Motor vespa berwarna putih tulang yang tak asing lagi. Dan pengendara berhelm merah. "Naik yuk cepetan aku lapar nih, ah kamu aku telpon gak diangkat. Udah lupa ya sama kakak sendiri? Atau berharap dijemput Aldo? Ayo naik cepetan, kita ke angkringan." Aku sempat terpaku untuk meyakinkan diriku bahwa yang dihadapanku adalah dia, sebelum naik ke motor vespa kesayangannya.
"Aku tahu kok teman-teman cerita terutama Aldo. Perempuan itu memang sedang dekat denganku, namun bukan berarti kau harus pergi? Ada hal dalam hidup yang tak perlu dipilih. Meskipun nanti aku jadi dengannya kau tetap adikku. Kamu tak akan kehilanganku, aku selalu ada di hatimu. Aku paham kok sifatmu selama ini semata karena kau tak ingin kehilanganku kan adik kecilku? Haha maklumlah aku kan kakak tertampan dan terimut di dunia ini." Ujarnya panjang lebar dan narsis seperti biasa saat sebelum ketakutanku datang.
Ya aku kini percaya perubahan, dan percaya dia tak pergi dia tetap kakakku. Kakak yang kutemukan setelah dewasa yang konyol namun mendapat tempat di hatiku.

[+/-]

CERITA NANO-NANO TAHUN PERTAMA

[+/-]

ANAK KOS? BAGAIMANA YA?

[+/-]

MAAF BUKAN KITA

[+/-]

MAMA, MY INSPIRATION

[+/-]

PULANG ( EVERYTHING IS ALRIGHT )

[+/-]

DUA KOTA DAN DILEMA (Part 1)

[+/-]

PERUBAHAN

 

Menggapai Mimpi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos